Berikut adalah ringkasan poin-poin penting dari video YouTube Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia Bulan Juni 2026:
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Juni 2026 mengambil langkah proaktif dan forward-looking dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Langkah kenaikan suku bunga ini difokuskan sebagai bauran kebijakan moneter untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dari ketidakpastian global serta memitigasi risiko inflasi (termasuk dampak cuaca El Nino dan imported inflation) dalam dua tahun ke depan [30:48], [01:09:19].
Di sisi lain, BI tetap menerapkan kebijakan makroprudensial yang longgar serta akselerasi digitalisasi sistem pembayaran guna memastikan likuiditas perbankan tetap melimpah demi terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan [31:16], [01:02:50].
Untuk informasi selengkapnya, Anda dapat menonton tayangan langsungnya melalui Bank Indonesia Channel di YouTube.
https://www.youtube.com/live/OOTAASYvHx8?si=CpKiZriEGjupH9tD
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,50%.
Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk makin memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendorong pertumbuhan (“pro-growth”). Kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Kebijakan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk turut mendukung kegiatan ekonomi melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.
Selain itu, Bank Indonesia juga terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, termasuk sinergi yang erat antara kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal untuk memitigasi dampak ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah terhadap perekonomian domestik sehingga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga baik. Sinergi kebijakan dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga dipererat untuk turut menjaga stabilitas sistem keuangan dan mendorong pembiayaan bagi program Asta Cita Pemerintah.
Dengan BI-Rate yang dinaikkan menjadi 5,75% pada